Sabtu, 08 November 2014

Lir ilir... Lir ilir...



Lir ilir lir ilir tandure wis sumilir,
       Tak ijo royo-royo tak sengguh penganten anyar,
       Bocah angon…bocah angon penekno blimbing kuwi,
       Lunyu-lunyu penekno kanggo basuh dodotiro,
       Dodotiro…dodotiro.. kumitir bedhah ing pinggir,
       Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore,
       Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
       Yo surako surak horee.
Artinya:
       Sayup-sayup bangun dari tidur, tanaman-tanaman sudah mulai bersemi,
       Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru,
       Anak-anak penggembala, panjatkan pohon blimbing itu,
       Walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian,
       Pakaian-pakaian yang koyak pinggirnya,
       Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore,
       Selagi sedang terang rembulannya, selagi sedang banyak waktu luang,
       Mari bersorak-sorak horee.

       Adapun maksud dari lirik lagu tersebut kurang lebih seperti dijelaskan di bawah ini.
       Makin subur dan tersiarlah agama Islam yang disiarkan oleh para wali dan mubalig. Hijau adalah warna dan lambang agama Islam. Agama Islam begitu menarik dan kemunculannya yang baru diibaratkan bagaikan pengantin baru. Cah angon atau penggembala, diibaratkan dengan penguasa yang menggembalakan rakyat. Para penguasa itu disarankan untuk segera masuk agama Islam (disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi lima sebagai lambang rukun Islam). Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah agar dapat masuk Islam demi menyucikan dodot (dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar zaman dahulu). Bagi orang Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan. Pakaianmu, (yaitu) agamamu sudah rusak, karena dicampur dengan kepercayaan animisme/klenik. Maka agama yang sudah rusak itu jahitlah (perbaiki), sebagai bekal menghadap Tuhan. Selagi masih ada kesempatan maka bertobatlah. Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan.

Minggu, 07 September 2014

Syair Cinta untukmu Duhai Kekasih (1)



Tahukah kamu saat pertama kali kita berjumpa, aku ingin berkata
أَوَّلُ الْمَطَرِ الْقَطْرُ وَ أَوَّلُ الْحُبِّ النَّظَرُ
Permulaan datangnya hujan tetesan, sedangkan permulaan datangnya cinta adalah pandangan.

Walaupun jarak memisahkan kita, ingatlah 
إِنَّ التَّبَاعُدَ لَا يَضُرُّنَا                    إِذَا تَقَارَبَتِ الْقُلُوْبَ
Sesungguhnya berjauhan itu tidak akan membahayakan hubungan cinta kita, apabila hati kita selalu berdekatan.

Kalau kau merindukanku, bacalah
إِقْرَأْ رِسَالَتِيْ كَأَنَّكَ تَرَانِي               فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَانِي أَرَاكَ
       Bacalah suratku seakan-seakan kau melihatku, apabila kau tidak merasa melihatku maka aku melihatmu.

          Jangan pedulikan orang-orang, bukankah
بَيْنَ الْمُحِبَّيْنِ سِرٌّ لَيْسَ يُفْشِيْهِ            قَوْلٌ وَلَا قَلَمٌ لِلْخَلْقِ يُحْكِيْهِ
       Diantara dua orang yang saling mencintai terdapat rahasia yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan tidak dapat ditulis menjadi cerita untuk orang lain.
      
       Sungguh, kita sangat beruntung karena
اَلْإِنْسَانُ بِلَا مَحَبَّةٍ كَاللَّيْلِ بِلَا نَجْمِ       وَ الْمَحَبَّةُ بِلَا قَيْدٍ كَالْقَهْوَةِ بِلَا سُكَّرٍ
       Seseorang yang hidup tanpa cinta seperti malam tanpa bintang, dan cinta tanpa ikatan seperti kopi tanpa gula.


Sabtu, 06 September 2014

Syair Imam Syafi'i (1)


 Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan sebuah buku diantara tumpukan koleksi bukuku yang lama tersimpan dalam kotak-kotak bisu berwarna coklat. Entah sudah berapa lama aku tak melirik mereka, hampir 7  tahun lebih. Aku rapikan dan aku rawat buku-buku itu, sungguh, aku tak percaya kalau aku punya buku sebanyak ini. Mungkin aku salah satu dari jutaan orang yang menyumbang global warming, tapi aku pun turut menyumbang eksistensi  penerbitan dan percetakan yang dihantam badai era digital bukan.
Buku itu adalah Diwan Al-Imam Syafi’i (syair-syair imam Syafi’i). Imam Syafi’i adalah ulama besar peletak madzhab Syafi’i, beliau bernama lengkap Abū ʿAbdillāh Muhammad bin Idrīs bin Wahab bin Utsman bin Syafiʿī atau lebih dikenal Muhammad bin Idris asy-Syafi`i, silsilah keturunan beliau bertemu dengan Rasulullah saw pada Abdi Manaf. Beliau dilahirkan pada hari Jumat akhir bulan Rajab tahun 150 H / 767 M di kota Gaza, Palestina. Sejarah hidup beliau sejak masa kanak-kanak ketika beliau sedang belajar hingga menjadi mufti dan ulama besar yang menguasai berbagai ilmu bisa kita temukan di berbagai sumber, tentunya sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Imam syafi’i tak pernah lepas memikirkan persoalan-persoalan umat manusia, diantara pemikiran beliau tentang sisi kehidupan manusia terkumpul dalam bentuk syair-syair berikut ini.


وَ قَالَ مُشِيْرًا إِلَى الْحَظِّ
                                       Perkataan Imam tentang nasib hidup

تَمُوْتُ الْأُسْدُ فِى الْغَابَاتِ جُوْعًا         وَ لَحْمُ الضَّأْنِ تَأْكُلُهُ الْكِلَابُ
وَ عَبْدٌ قَدْ يَنَامُ عَلَى سَرِيْرٍ               وَ ذُوْ نَسَبٍ مَفَارِشُهُ التُّرَابُ


           Seekor singa mati kelaparan di hutan, padahal daging kambing berceceran dimakan serigala.
Seorang hamba sahaya tidur diatas ranjang, sedangkan sang bangsawan tidur beralas pasir.


فَوَائِدُ السَّفَرِ                            
                                                                                                          Manfaat Berkelana                                                                          
تَغَرَّبْ عَنِ الْأَوْطَانِ فِى طَلَبِ الْعُلَى    وَ سَافِرْ فَفِى الْأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَئِدِ
تَفَرُّجُ هَمٍّ وَ اكْتِسَابٍ مَعِيْشَةٍ             وَ عِلْمٍ وَ أَدَابٍ وَ صُحْبَةِ مَاجِدِ
وَ إِنْ قِيْلَ فِى الْأَسْفَارِ ذُلٌّ وَ مِحْنَةٌ      وَ قَطْعُ الْمَالِ وَ اكْتِسَابُ الشَّدَائِدِ
                            فَمَوْتُ الْفَتَى خَيْرٌ لَهُ مِنْ حَيَاتِهِ
  
       Pergi dari tanah kelahiranmu ke negeri asing untuk mencari kebaikan, mengembaralah karena dalam pengembaraan kamu akan dapatkan lima manfaat.
Menghilangkan kesedihan, meningkatkan perekonomian, meningkatkan pengetahuan dan wawasan peradaban, serta menambah pergaulan.
            Apabila dikatakan bahwa berkelana itu suatu perbuatan hina,sia-sia, menghabiskan uang, dan hanya mendapat kesusahan.
            Maka sesungguhnya kematian seorang pemuda(di perantauan) lebih baik dari pada hidup(di tanah kelahiranya dengan penuh dengki dan iri hati)nya.