Beberapa minggu yang lalu,
aku menemukan sebuah buku diantara tumpukan koleksi bukuku yang lama tersimpan
dalam kotak-kotak bisu berwarna coklat. Entah sudah berapa lama aku tak melirik
mereka, hampir 7 tahun lebih. Aku rapikan
dan aku rawat buku-buku itu, sungguh, aku tak percaya kalau aku punya buku
sebanyak ini. Mungkin aku salah satu dari jutaan orang yang menyumbang global
warming, tapi aku pun turut menyumbang eksistensi penerbitan dan percetakan yang dihantam badai
era digital bukan.
Buku itu adalah Diwan
Al-Imam Syafi’i (syair-syair imam Syafi’i). Imam Syafi’i adalah ulama besar
peletak madzhab Syafi’i, beliau bernama lengkap Abū ʿAbdillāh Muhammad bin Idrīs
bin Wahab bin Utsman bin Syafiʿī atau lebih dikenal Muhammad bin Idris
asy-Syafi`i, silsilah keturunan beliau bertemu dengan Rasulullah saw pada Abdi
Manaf. Beliau dilahirkan pada hari Jumat akhir bulan Rajab tahun 150 H / 767 M di
kota Gaza, Palestina. Sejarah hidup beliau sejak masa kanak-kanak ketika beliau
sedang belajar hingga menjadi mufti dan ulama besar yang menguasai berbagai
ilmu bisa kita temukan di berbagai sumber, tentunya sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Imam syafi’i tak pernah
lepas memikirkan persoalan-persoalan umat manusia, diantara pemikiran beliau
tentang sisi kehidupan manusia terkumpul dalam bentuk syair-syair berikut ini.
وَ
قَالَ مُشِيْرًا إِلَى الْحَظِّ
Perkataan Imam tentang nasib hidup
تَمُوْتُ الْأُسْدُ فِى الْغَابَاتِ جُوْعًا وَ لَحْمُ الضَّأْنِ تَأْكُلُهُ الْكِلَابُ
وَ عَبْدٌ قَدْ يَنَامُ عَلَى سَرِيْرٍ وَ ذُوْ نَسَبٍ مَفَارِشُهُ
التُّرَابُ
Seekor singa mati kelaparan di hutan, padahal daging kambing berceceran dimakan serigala.
Seorang hamba sahaya tidur
diatas ranjang, sedangkan sang bangsawan tidur beralas pasir.
فَوَائِدُ
السَّفَرِ
Manfaat Berkelana
تَغَرَّبْ عَنِ الْأَوْطَانِ فِى طَلَبِ الْعُلَى وَ سَافِرْ فَفِى الْأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَئِدِ
تَفَرُّجُ هَمٍّ وَ اكْتِسَابٍ مَعِيْشَةٍ وَ عِلْمٍ وَ أَدَابٍ وَ صُحْبَةِ مَاجِدِ
وَ إِنْ قِيْلَ فِى الْأَسْفَارِ ذُلٌّ وَ مِحْنَةٌ وَ قَطْعُ الْمَالِ وَ اكْتِسَابُ الشَّدَائِدِ
فَمَوْتُ الْفَتَى خَيْرٌ
لَهُ مِنْ حَيَاتِهِ
Pergi
dari tanah kelahiranmu ke negeri asing untuk mencari kebaikan, mengembaralah
karena dalam pengembaraan kamu akan dapatkan lima manfaat.
Menghilangkan kesedihan,
meningkatkan perekonomian, meningkatkan pengetahuan dan wawasan peradaban, serta menambah
pergaulan.
Apabila
dikatakan bahwa berkelana itu suatu perbuatan hina,sia-sia, menghabiskan uang,
dan hanya mendapat kesusahan.
Maka
sesungguhnya kematian seorang pemuda(di perantauan) lebih baik dari pada hidup(di
tanah kelahiranya dengan penuh dengki dan iri hati)nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar